Penayangan bulan lalu

Rabu, 12 Desember 2012

ASAL MULA NAMA NANGA PINOH DAN SEJARAH PERJUANGAN DIKABUPATEN MELAWI

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang Masalah
Kabupaten Melawi merupakan salah satu kabupaten yang ada di Kalimantan Baarat. Kabupaten Melawi dengan Ibukotanya Nanga Pinoh juga menyimpan berbagai cerita menarik mulai dari asal nama Nanga Pinoh serta peperangan yang terjadi antar kerajaan sebelum kemerdekaan Indonesia atau lebih tepatnya sebelum diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 oleh Bung Karno (Ir. Soekarno) dan Bung Hatta (Moch. Hatta).
Kabupaten Melawi merupakan salah satu diantara 11 Kabupaten yang berada di Kalimantan Barat. Melawi berbatasan dengan Kecamatan Dedai (Kabupaten Sintang), di sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan Tumbang Selam, Provinsi Kalimantan Tengah, di sebelah Selatan, dengan Kecamatan Serawai (Kabupaten Sintang), di sebelah Timur dan dengan Kecamatan Sandai (Kabupaten Ketapang) di sebelah barat. Ibukota kabupaten Melawi adalah Nanga Pinoh, yang biasa dikenal dengan sebutan Kota Juang. Seperti Kabupaten-Kabupaten lain, di Kabupaten Melawi juga terdapat peninggalan-penilnggalan sejarah. Perjuangan para tokoh masyarakat juga berperanan di dalam perjuangan memperebut kemerdekaan dari tangan penjajahan Belanda maupun Penjajahan Jepang.
Dikatakan bahwa di Melawi banyak terdapat pertumpahan darah akibat peperangan melawan Penjajahan. Hal ini terbukti dengan adanya Benteng bekas pertahan pemerintahan Belanda di pantai sungai Pinoh tepatnya Desa Tanjung Niaga. Dalam memperebutkan kemerdekaan di Melawi terjadi peperangan antara pejuang di Melawi di bantu juga oleh pejuang-pejuang lain dari daerah tetangga seperti Sintang, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas. Masalah-masalah yang dimaksud adalah :
1.      Mengetahui asal mula nama Nanga Pinoh yang masih asing di Kalimantan Barat maupun di Indonesia ?
2.      Bagaimana persiapan sebelum peperangan ?
3.      Apa tujuan peperangan dan alasan terjadinya peperangan ?
4.      Bagaimana nasib para pejuang kemerdekaan tersebut dan Bagaimana   
kehidupan Masyarakat Melawi setelah peperangan tersebut berakhir ?

C.    Batasan Masalah
Dalam Makalah ini hanya akan membahas mengenai asal mula nama Nanga Pinoh sebelum kemerdekaan yang merupakan sistem Kerajaan Hilir dan Kerajaan Hulu, dan sejarah peperangan pejuang di Melawi melawan penjajahan Belanda setelah Kemerdekaan. Sebagai reaksi dalam menyambut Proklamasi yang telah di bacakan oleh Ir. Suekarno di Jakarta tanggal 17 Agustus 1945.

D.     Manfaat Penelitian
Setelah melakukan pencarian sumber data dengan cara wawancara, semoga bermanfaat buat kita. menceritakan kembali sejarah perjuangan yang ada di Melawi Nanga Pinoh, karena memang Sejarah perjuangan di Melawi sedikit sekali yang mengetahuainya, padahal di Melawi banyak terjadi pergolakan, bukan Cuma di Nanga Pinoh, tapi juga di daerah lain seperti di Desa Madong Raya, Kecamatan Tanah Pinoh (Kota Baru), di Serawai, Nanga Sayan, dan Nanga Sokan.

E.    Tujuan Peneletian
Makalah  ini bertujuan untuk, menambah ilmu pengetahuan kita bangsa Indonesia, Khususnya Kalimantan Barat untuk lebih dalam lagi mempelajari sejarah lokal atau peristiwa-peristiwa yang ada di Kalimantan. Makalah ini mudah-mudahan memotivasi kita untuk bersama-sama terus mencari sejarah lokal yang belum tergali dari para Tetua di pedalaman setiap Kabupaten.
Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk memperkenalkan kepada khalayak ramai bahwa di Melawi atau Nanga Pinoh juga terdapat cerita sejarah yang menarik untuk digali dan diceritakan kembali serta peninggalan sejarah dan kisah-kisah sejarah pada zaman penjajahan Belanda.
Sesuai dengan pesan Nara Sumber peneliti yang mengatakan 1. “kian udah nyaman maso tuk, udah ndog perolu betaroh nyawo lagi nak medeka, nesik kian betaroh nyawo dengan beperang segalo macam kami dolok tih” yang artinya “Kalian sudah enak sekarang, sudah tidak perlu bertaruh nyawa lagi untuk merdeka, tidak  bertaruh nyawa dengan berperang seperti kami dulu”.
2. “dolu te kalau ado tentaro belano datang, lo kaban berono berogo dengan senyato kito arus ditabok, kalau nadok ditabok diamik dok”.
Artinya : “dulu kalau ada tentara Belanda datang, segala barang berharga dan senjata harus disembunyikan, kalau tidak disembunyikan diambil mereka”.
F.    Kerangka Teori
Dalam melakuakan penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kekeluargaan, karena penulis sendiri berasal dari Kabupaten Melawi yaitu Kecamatan Sayan, jadi hal ini sangat membantu dalam mencari data. Penulis mewancarai orang yang dianggap tahu akan sejarah memperebutkan kemerdekaan di melawi.

G.    Metode Penelitian
1.   Historistis
merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah untuk berburu dan mengumpulkan berbagi sumber data yang terkait dengan masalah yang sedang diteliti. Misalnya dengan melacak sumber sejarah tersebut dengan meneliti berbagai dokumen, mengunjungi situs sejarah, mewawancarai para saksi sejarah.
2.   Historiografi (Penulisan Sejarah),
Historiografy (Penulisan Sejarah), adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibavca orang lain.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Lintas Sejarah
Dahulu kotaNanga Pinoh terletak di Tekelak, pada tahun 1862 karena pantainya yang curam dan sulitnya bongkar muat sehingga secara berangsur mereka pindah ke seberang yaitu di Nanga Pinoh sekarang.         Pada jaman dahulu sebagian kota Nanga Pinoh yaitu sepanjang tepian sungai Melawi (sekarang jalan Garuda) adalah rawa-rawa.     
Pada tahun 1891 berdiri badan urusan Pernikahan dan Kematian, ini dibuktikan dengan prasasti Wu Chi Than oleh perkumpulan Sip San Sa (tahun 34 dinasti Kwang Si). Oleh karena penduduk semakin bertambah, terutama marga Lai, maka dibukalah Sekolah Dasar Tionghoa yang pertama tahun 1902-1965.
Orang-orang Tionghoa membawa serta kepercayaan leluhurnya dengan menganut kepercayaan Kong Hu Cu dan membangun Klenteng pertama pada sekitar tahun 1885 di tepi sungai Melawi waktu itu, persisnya di ujung lapangan basket yang sekarang, kemudian dipindahkan oleh Belanda pada tahun 1927.
Pada tahun 1928 terjadi kebakaran hebat di sepanjang tepian sungai Melawi dan menghanguskan 40-an rumah. Karena hebatnya kebakaran, roda perekonomian terganggu sampai berbulan-bulan. Hal ini terjadi karena untuk datangkan sembako dari Pontianak dengan angkutan sungai yang waktu itu disebut kapal bandung, perlu waktu yang lama.       
Selain sebagai tempat sembahyang, komunitas etnis Tionghoa waktu itu sering menjadikan Klenteng sebagai lokasi untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, konflik dan sengketa.     
Sejak dahulu orang-orang Tionghoa jika membuka usaha, lahan bisnisnya pasti berada di pertemuan dua sungai, ini dimaksudkan agar dagangan dari kedua hulu sungai akan singgah dan menjual dagangannya. Sampai sekarang kita masih bisa melihat jejak petualangan mereka. Contohnya di kota Sintang yang diapit dua sungai yaitu sungai Melawi dan Kapuas, mereka berdagang dan tinggal di antara sungai tersebut. Di kota Sekadau juga berada di antara dua sungai yaitu sungai Kapuas dan sungai Sekadau, demikian juga kota Sanggau berada di antara dua pertemuan sungai, yaitu sungai Kapuas dan sungai Sekayam, dan demikian seterusnya. Orang Tionghoa pada umumnya lebih merayakan Imlek sebagai hari besar, ketimbang hari-hari besar lainnya. Ada kebiasaan mereka menempelkan kertas merah pada pintu rumah, jendela-jendela, bangku, meja, lemari dapur, kue keranjang bahkan sampai di tungku.       
Seiring masuknya kolonial Belanda di Nanga Pinoh dan berkembangnya kota Nanga Pinoh, mulailah dikerjakan jalan Sintang-Nanga Pinoh dan Nanga Pinoh-Kota Baru. Pengerjaan dengan pengerahan tenaga Rodi, sehingga jalan Nanga Pinoh-Kota Baru sering disebut jalan 40 hari (karena pekerja Rodi bekerja selama 40 hari per tahun). Tahun 1931 kolonial Belanda membangun pasar pagi yang tahan api , tetapi pasar ini pun terbakar ludes tahun 2003.    
Missionaris Kristen Protestan Pendeta Robert Mao masuk ke Nanga Pinoh pada tahun 1937, dan mengadakan penginjilan di tepi-tepi jalan Kota Nanga Pinoh. Missionaris Kristen Katholik Pastor Linsen (Chong Si Sin Fu) datang pada tahun 1947 dan berkedudukan awal di Serawai, dan Suster Helena (Thai Ku Nyong) dari negeri Belanda pertama kali membuka balai pengobatan di Nanga Pinoh.
Pesawat Cessna MAF (Mission Aviation Fellowship) pertama mendarat di lapangan perintis Nanga Pinoh tahun 1970. Seiring kemajuan Kalimantan Barat, khususnya Nanga Pinoh, bis antar kota sudah menembus kota Nanga Pinoh pada tahun 1983. Dan pada tahun 1986, pesawat DAS (Dirgantara Air Service) resmi menerbangkan rute Pontianak-Nanga Pinoh. Pada tahun 1996 pesawat DAS (PK-PIS) yang diterbangkan oleh pilot Agung Kuncoro jatuh di bukit Saran dan menewaskan 10 penumpangnya dan 1 penumpang selamat yaitu ibu Nur Intan.

Karena lancarnya arus angkutan darat maka sejak tahun 1990 angkutan sungai dengan kapal bandung mulai ditinggalkan.Di tahun 2003 Kota Nanga Pinoh diresmikan menjadi Kabupaten Melawi dengan Bupatinya Drs. Suman Kurik, MM.

Sampai sekarang kota Nanga Pinoh telah berkembang menjadi suatu wilayah perdagangan meliputi wilayah Kota Baru, Serawai, Ella dan lain-lain.

B.     Mengetahui Asal Mula Nama Nanga Pinoh yang Masih Asing di        Kalimantan    Barat Maupun di Indonesia
Berdasarkan cerita para Tetua di Daerah Sayan dan sekitarnya, ternyata nama Sungai Pinoh pada zaman dahulu adalah Sungai Penuh (penuh dengan kayu), di ceritakan bahwa pada zaman dahulu sering terjadi perang antar Kerajaan Hulu (Daerah Sokan, Kota Baru (sekarang Kecamatan Tanah Pinoh) dan Nanga Sayan) dengan kerajaan hilir (Nanga Pinoh dan Sintang) maka Raja Daerah Hulu memberi perintah kepada seluruh Prajurit dan Rakyatnya untuk menebang semua pohon yang dekat sungai dengan tujuan supaya sungai menjadi penuh dengan kayu, dengan demikian pasukan Hilir tidak bisa menyerang ke Hulu (pada zaman dahulu belum ada jalur darat), benar saja ketika pasukan Hilir mau menyerang mereka menemukan sungai yang penuh dengan kayu sehingga mereka tidak bisa lewat. Dan mulai saat itu semua prajurit dan warga sekitar sungai menyebut sungai tersebut dengan nama Sungai Penuh. Adapun sekarang menjadi Sungai Pinoh itu hanya karena perkembangan zaman dan seiring dialek kebahasaan masyarakat sekitar yang berubah. Bahakan sekarang berkembang menjadi sebutan Nanga Pinoh, karena memang Sungai Penuh atau Sungai Pinoh sebutan sekarang berada di nanga.

C.    Bagaimana Persiapan Sebelum Peperangan
Setelah sekian lama ditunggu-tunggu oleh rakyat Indonesia, akhirnya Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Hal ini tidak terlepas dari peran para tokoh yang berjuang menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan. Sarana penyebaran berita Proklamasi Berita proklamasi yang telah meluas di Jakarta segera disebarluaskan keseluruh wilayah Indonesia bahkan keseluruh dunia.
Berita proklamasi pada waktu itu di Melawi masih simpang siur informasinya. Setelah mendapatkan penjelasan yang pasti dari H.Yusuf Haris, barulah Al-Ustadz Bagindo Jalaludin tidak ragu lagi.
Kelompok Pejuang Merah Putih merupakan salah satu kelompok perlawanan rakyat yang sangat gigi. Nilai-nilai kepahlawanan tumbuh dengan sangat kuat di dada mereka demi menjaga nama bangsa Indonesia dari para penjajah. Dimana, darah dan nyawa sebagai taruhannya dalam mengusir para penjajah.
Selain itu para pejuang Melawi juga meminta bantuan kepada para pejuang lain yang ada di daerah sekitarnya seperti meminta bantuan kepada Sintang dan tetangga lainnya. Di Melawi sendiri selain BOPMP, juga terdapat kesatuan lain yang Menjadi salah satu sarana perjuangan memperebutkan kemerdekaan yaitu Kesatuan Batalyon Mandau Telabang yang di pimpin oleh seorang asal Kalimantan Tengah yang bernama Kapten Markasan. Nasab beliau adalah Markasan bin H.M Sa’ad bin Cik Aji.
Selain dua organisasi tersebut, yang ikut berperang memperebutkan Kemerdekaan di Melawi adalah dari Banjarmasin yang di sebut dengan pasukan Beruang Merah dan juga bantuan dari Kalimantan Tengah yang di sebut dengan pasukan Anjing Hitam, dan bergabunglah di Melawi dengan Laskar Merah Putis, tiga organisasi ini tergabung dalam satu kesatuan yaitu Kesatuan MN 1001 MTKI/TNI.
Dengan bergabungnya berbagai organisasi perjuangan tersebut, maka sudah cukup kuatlah kekuatan, dan dengan demikian menghadapi perang Melawi sudah siap untuk menyerang benteng Belanda di Kampung Tanjung Niaga.

D.   Peperangan Memperebutkan Kemerdekaan
Kemerdekaan Indonesia direbut melalui perjuangan cukup panjang dengan penuh tetesan keringat dan darah, serta nyawa yang tidak ternilai harganya. Para pejuang pendahulu berjuang tanpa pamrih dengan semboyannya “Merdeka atau Mati”.
Begitu pula di Kabupaten Melawi, yang pada zaman kolonial Belanda, para pejuang terdahulu merebut kemerdekaan dengan semangat berkorban. Melalui Pejuang Merah Putih dibawah komandan Bagindo Jalaludin.
Dengan gabungan kekuatan yang sudah ada, membuat tentara Belanda gentar. Belanda menarik mundur pasukannya baik yang ada di Sintang dan Nanga Pinoh, pasukan tersebut ditarik ke Sanggau. Kecuali Polisi Belanda orang Indonesia. Mereka tetap berada diposnya.
Setelah dirasa sudah cukup persiapan peperangan, maka pada tanggal 10 November 1946, pada dini hari, maka dailakukanlah penyerangan terhadap benteng Belanda di Tanjung Niaga.
Kopral Norbet sendiri pada waktu itu ikut berperang, beliau berangkat dari Madong Raya bersama tiga temannya bernama Kapten Markasan, Letnan Ohon, dan Sersan Dumek. Mereka berangkat dari Madong Raya pada malam hari dengan menggunakan perahu kecil hal ini supaya tidak di ketahui oleh pihak musuh. Mereka singgah di Tanjung Elai, yang dikatakan bahwa di sinilah Markas Pejuang Merah Putih, akan tetapi tidak ada bukti fisiknya. Di Tanjung Elai sudah berkumpul para pejuang lain yang siap untuk menyerang benteng Belanda.
Dalam masa penyerangan menduduki benteng Belanada tersebut, telah menelan banyak korban jiwa. Pada 10 November 1946, dini hari. Pada waktu itu Benteng Belanda di pimpin oleh Controleur L.J Herman, yang di juluki Komandan Gila oleh para pejuang sebagai bukti kekesalannya terhadap Belanda.
Peperangan berlangsung cukup sengit dan banyak menelan Korban baik dari kubu Pejuang Melawi maupun dari kubu Belanda. Kopral Norbet pada waktu itu berperan sebagai penembak jitu dengan menggunakan Senapan Lantak, dan melauli peperaang yang cukup lama akhirnya peperanagn tersebut di menangkan oleh Pejuang Melawi.
Dengan kemenangan tersebut maka dikibarkanlah bendera Merah Putih di Melawi, tepatnya di Nanga Pinoh pada esok harinya tanggal 11 November 1946.  Bedera Merah Putih berkibar dengan megahnya dan disambut Rakyat sangat bergembira pada waktu itu, melihat bendera Indonesia berkibar melambai-lambai di Bumi Persada.
Bagindo Jalaludin kemudian kembali ke Nanga Pinoh. Akan tetapi, malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih, pada tanggal 15 November 1946, siang hari, tentara KNIL datang dari Pontianak dengan tiga buah Motor Nirub. Membawa pasukan Belanda dan persenjataan modern yang lengkap. Sembelum mendarat, pasukan Belanda menembakkan peluru secara membabi buta.
Kemudian terjadilah pertempuran sengit antara pasukan kesatuan Pejuang Merah Putih yang bersenjatakan Karaben dan Golok, dengan tentara KNIL yang memiliki persenjataan canggih serta memadai. Menurut Kopral Norbet, tiga buah kapal nirub tersebut bisa sampai ke Nanga Pinoh, dikarenakan kapal tersebut tidak di cegat oleh Pejuang Merah Putih Sintang, karena memang tiga buah kapal nirub tersebut bersenjatakan lengkap dengan meriamnya, jadi Pejuang Merah Putih Sintang tidak berani mencegatnya.
Dengan persenjataan yang sealakadarnya yang dimiliki oleh Pejuang Melawi maka sudah di pastikan pejuang Melawi mengalami kekalahan. Kedatangan tiga buah kapal Nirub tersebut langsung singgah di pantai sungai tepat di Kampung Liang, kampong yang berseberangan dengan Kampug Tanjung Niaga, yang menjadi tempat terletaknya Benteng Belanda.
Raden M. Syamsudin bin Raden Panji Abdurahman, Raja Sintang ke 28, dipecat dari pangkatnya akibat membuat pernyataan bahwa, rakyat Kerajaan Sintang berdiri di belakang BOPMP Republik Indonesia. Setelah itu, Pejuang Merah Putih mundur dan masuk ke hutan di hulu Sungai Pinoh. Sedangkan Bagindo Jalaludin beserta isteri dan anaknya, menyelamatkan diri ke dalam hutan, setelah sebelumnya mendapat ancaman untuk dibunuh.

E.    Kehidupan Setelah Peperangan
Pimpinan Pejuang Merah Putih, Bagindo Jalaluddin Khadim. Beliau beserta keluarga lari dari Nanga Pinoh dengan didampingi seorang penunjuk jalan, seorang lelaki Suku Dayak bernama Dayah atau Taher Bora. Melalui kampung-kampung seperti Nanga Kelawai, Sungai Mangat, Kayu Baong, Nanga Sasak, Mancur, Entapang, Sapau di Kalimantan Tengah.
Setelah terus menghindar dari kejaran tentara KNIL, akhirnya Bagindo Jalaludin beserta anak dan isterinya tertangkap oleh tentara KNIL dari Kalimantan Selatan. Anak dan isterinya dilepaskan dan akhirnya kembali ke Kota Baru. Bagindo Jalaludin langsung dibawa ke Banjarmasin, kemudian diteruskan ke Jakarta, dan dipenjara di rumah tahanan Cipinang.
Dari Jakarta, selanjutnya dikirim ke Pontianak. Atas keputusan peradilan NICA Belanda, Bagindo Jalaludin Kahtim dihukum enam tahun penjara. Setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Indonesia dan Belanda, yang menghasilkan penyerahan kedaulatan bangsa dari Negeri Belanda ke Republik Indonesia.
Pada 27 Desember 1949, Bagindo Jalaludin dibebaskan dari penjara. Dia  melakukan sujud syukur. Dari hasil perjuangannya terdahulu, Bagindo melantunkan senandung yang berbunyi, “Dua kali perang tebidah. Naga Payak kubu belansai. Kalau dikenang masa yang sudah, air mata jatuh berderai.”

Pada tahun 1957, beliau jatuh sakit, akibat menderita sakit paru-paru dan dirawat di Rumah Sakit Umum di Sintang. Pada 1958, dalam usia 50 tahun, Bagindo Jalaludin wafat. Dia disemayamkan di kampung halamannya di Pariaman Padang, Sumatera Barat. Tepatnya di Alahan Tabek, Basuk Sikucur.
Sepeninggalan Bagindo Jalaludin, anak-anak Nanga Pinoh, khusussnya pelajar pada masa itu, oleh gurunya di sekolah dalam mengenang jasa para pahlawannya menyanyikan lagu perjuangan yang berbunyi, Gerilya Nanga Pinoh Dua Tiga Lusin, Senjatanya ada Dua Belas Pucuk Karaben. Selain Itu Pisau dan Siken, Penghulunya itu Bagindo Jalaludin.
Kapten Markasan dan Tk. Liwan merusaha mengkoordinir pasukan, tapi usaha tersebut sia-sia karena hubungan dari hutan ke hutan tidak menentu. Serangan pasukan Belanda tetap di luncurkan, hal ini jadi penghambatnya.
Sekarang Desa Madong Raya Kecamatan Tanah Pinoh di bangunlah sebuah Monumen berupa tugu yang di beri nama Tugu Perjuangan 1946 berupa tugu bambu runcing. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan alat perjuangan waktu itu yang menggunakan bamboo runcing. Sebagai tanda di tempat tersebut merupakan salah satu tempat yang bersejarah dan banyak Melahirkan pejuang. Seperti Kopral Norbet, Sersan Dumek dan Letnan Ohon yang merupakan orang asal Madong Raya. Tugu Perjuangan 1946 di bangun di pesisiran Sungai Pinoh berdekatan dengan komplek makam keluarga Kapten Markasan serta pejuang di masa itu. Tugu ini di bangun di masa pemerintahan Gubernur Kadarusno.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setelah Proklamasi kemerdekaan di Jakarta, maka mulai mennyebarlah berita kemerdekaan tersebut ke seluruh penjuru tanah air. Termasuk juga ke Melawi, dengan bantuan seorang penyebar berita kemerdekaan yaitu Haji Yusuf Haris Pada 15 Maret 1946. Beliau datang dari Sumatra melalui daerah Ketapang dan tiba di Melawi, setibanya di Melawi berita tersebut di ceritakan kepada Al-Ustadz Bagindo Jalaludin Kahtim dan A.M Djohan yang merupakan tokoh perjuangan dimasa itu. Menanggapi hal tersebut, maka di bentuklah BOPMP (Badan Organisasi Pemberontak Merah Putih) tujuannya adalah untuk berjuang dibidang politik, akan tetapi pada perkembangannya BOPMP ini menjadi wadah perlawanan terhadap penjajah bukan hanya melalui politik tapi juga perlawanan terang-terangan berupa peperangan. BOPMP ini dikenal juga dengan nama Pejuang Merah Putih, Pejuang Merah Putih inilah yang nantinya menjadi pelopor perlawanan melawan tentara Belanda di bantu juga oleh organisasi perjuangan lainnya Seperti bantuan dari Kalimantan Timur yaitu pasukan Beruang Merah dan dari Kalimantan Tengah yaitu pasukan Anjing Hitam, yang bersatu dengan nama Kesatuan MN 1001 MTKI/TNI. Hal inilah yang memperkuat kembali kesatuan perjuangan di Melawi.

B.     Saran
Setelah melakukan penelitian dan setelah menulis hasil makalah ini, maka dari itu penulis menyarankan kepada pembaca untuk sama-sama mencari kembali sejarah-sejarah loal yang ada di daerah kita masing-masing, baik itu sejarah dimasa kerajaan maupun dimasa kolonial dan bagaimana pejuangan memperebutkan kemerdekaan. Ini semua untuk memotivasi kita agar kita lebih giat lagi mengingat kenangan tentang perjuangan pahlawan dalam memperjuangkan daerah yang kita pijak dan kita lahirkan ini. Bagi saya menjadi suatu kebangga tersendiri bisa mengungkap sejarah dikabupaten saya sendiri. Karena pada tanggal hari ini adalah bertepatan dengan hari pahlawan, maka dari itu, saya selaku mahasiswa mengucapkan selamat hari Pahlawan yang ke-67, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pemimpinnya (Soekarno).


DO'A PERNIKAHAN, PUISI PERJUANGAN DAN MOTIVASI AHLI




Ya Allah…
Sesungguhnya engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru dijalan-Mu, berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya.
Ya Allah…
Abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya. Penuhilah dengan cahaya-Mu yang tak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan Iman dan keindahan Tawakal kepada-Mu. Hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, matikanlah dalam keadaan syahid dijalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baiknya pelindung dan penolong..


SAHABAT…
Rindukan dirimu…
Berjanjilah wahai sahabatku…
Bila kau tinggalkan aku…
Tetaplah tersenyum, meski hati sedih dan menangis…
Aku ingin kau tetap tabah menghadapinya…
Meninggalkan diriku, jangan lupakan aku…
Semoga dirimu disana akan baik-baik saja…
Untuk selamanya…
Disini aku akan selalu merindukan dirimu, wahai sahabatku…



Pak  Harto…
Dimasa lampau pekik merdeka kian memakan sulit melupakan nama Pak Harto dimasa pembangunan ini…
Langkahkan kaki dengan pasti demi Ibu Pertiwi…
Kita wajib berbakti…
Dimasa perang para pemuda menyandang senjata…
Dimasa sekarang…
Para pemuda menyandang sarjana…
Pak Harto, bapak pembangunan, tercapai sudah pembangunan…
Rakyat bebas dari penjajahan…
Rakyat bebas dari penderitaan…



Ahli Yunani mengatakan :
Hukum itu seperti jaring laba-laba, apabila yang kecil masuk maka akan terperangkap. Tetapi apabila yang besar terperangkap maka akan merusak jaring laba-laba tersebut.

Lincoln : tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting berapa kali anda bangkit.
Abu Darda : kebahagian sejati adalah menguasai dunia, buka dikuasai dunia.

PENGALAMAN HIDUP SI ANAK DUKUH "AHIRUL HABIB PADILAH"


PENGALAMAN HIDUP SEORANG ANAK DUKUH HINGGA MENDAPAT GELAR SARJANA
Dulu ketika masih kecil atau waktu sekolah dasar (SD), saya disekolahkan oleh orang tua saya kesekolah SDN 09 SAYAN. Waktu pertama sekali sekolah, belum tau apa-apa, masih bingung. Saya ingat sekali pada waktu itu, saya kelas 01 Sekolah Dasar, saya mengenal  beberapa guru. Yaitu Pak Suwandi, Pak Aseanus, Ibu Eni, Pak Arpendi dll. Diantara beberapa guru itu, yang paling saya takuti adalah pak Arpendi yang mengajar Matematika dan saya ingat bahwa pak Arpendi dijuluki anak-anak sebagai guru yang paling garang disekolah, saya sendiri sering menangis apabila pak Arpendi masuk kelas, dikarenakan saking takutnya, untung saya memiliki seorang kakak perempuan yang pada waktu itu sekolah di SD yang sama, kakak saya bernama Sukhairullida yang duduk dikelas 03 SD ketika saya kelas 01. Pak Arpendi sendiri tak jarang ban motornya kempes, karena memang sengaja dikempesin oleh anak-anak yang degil. Sedangkan Ibu Eni dikenal sebagai guru yang lemah lembut, Ibu Eni mangajar Bahasa Indonesia dan dipercaya sebagai wali kelas 01 mungkin karena sifatnya yang lemah lembut dan mengerti akan watak anak-anak  seumuran saya. Pak suwandi juga tak kalah menariknya dengan ibu Eni, sangat cocok dengan pelajaran yang dia ajarkan yaitu Agama Islam dan Bahasa Indonesia. orangnya baik dan murah senyum. Pak suwandi juga termasuk guru idola disekolah saya waktu itu. Sedangkan pak Aseanus yang merupakan seorang Muallaf, mengajar olahraga, yang sangat cocok dan menarik kalau diajar oleh beliau, olahraganya pakai system konsling, minggu ini belajar, maka minggu depan akan praktek.
Kelas 01 saya mengenal banyak teman, sebut saja ada, Aswandi Taimimi yang selalu menyisir rambutnya dengan model kalau zaman sekarang boleh dikatakan potongan pak BEYE, Ardiyansah yang memiliki sifat dan rambut seperti anak Rock and Roll walau sedikit mencolok dan norak serta sedikit lucu, Ilham Saputra yang suka melukis dan sering minta dibuatin lukisan Dragon Ball oleh saya karena memang waktu itu ditahun 1998 lagi ngetren filmnya Dragon Ball, Ardi Setiawan sebagai anak yang paling gemuk dan besar dikelas yang suka ngacauin anak yang lain, kadang-kadang banyak anak-anak yang kesel, tapi dia tetap kacauin (mane duleee), Wahyuningsih sebagai juara kelas waktu itu dan sangat pintar, Aan Nirwahdah anak yang pendiam walau sedikit manja, Sridayanti anak yang suka makan, Rajuandi yang suka jualan asongan disekolah mulai dari permen, nasi bungkus daun pisang dan sampai jualan Rokok eceran disekolah (sedikit menantang) ada juga Juhardi anak yang pendiam, Evi anak pintar yang tak kalah dengan Wahyu walau agak dekil dan dijuluki Nenek Lampir (hahaha) dan ada juga Elmi anak pindahan dari desa 57 yang suka menebar senyum sana-sini. Saya sendiri tak jauh berbeda dengan teman-teman diatas, namun saya berbeda karena saya dengan keterbatasan yang saya miliki, orang tua walau sudah bekerja keras, namun tetap dengan penghasilan yang pas-pasan. Sehingga memaksa saya harus sekolah dari ladang atau rumah pondok di kebun. Jarak perjalanan dari ladang saya ke sekolah sekitar 45 menit. Untung saya memiliki seorang kakak yang satu sekolah, sehingga berangkat dan pulang selalu bareng. Ketika teman-teman semuaya menikmati masa-masa bermain dengan kawan lainnya disekolah saya dan kakak saya harus sekolah sambil jualan nasi bungkus daun pisang dan permen. Saya sendiri ketika sekolah sangat jarang bahkan tidak pernah pakai sandal boro-boro sepatu, paling saya pakai sepatu pada saat semesteran dan pembagian rapot, itupun sepatu bekas atau pemberian orang. Ini semua saya lakukan seperti jualan dan segalanya demi membantu perekonomian keluarga saya. Pada waktu itu Saya memiliki seorang ayah bernama Mansyurdin yang berumur sekitar 51 tahunan, dan Ibu yang bernama Alm. Ayang Halimah yang berumur sekitar 48 tahunan, mereka membanting tulang demi menyekolahkan saya dan kakak serta abang saya yang masih duduk dibangku SMP. Satu hal kesalahan saya terhadap orang tua terutama ibu yang tidak bisa saya lupakan, ketika itu pas hari libur hari minggu, ibu saya diberi kelapa oleh tetangga, dan dimakan bersama-sama dibagi secara adil ke kakak (Sukhairullida) dan abang (Sariaman) saya, ketika itu mungkin karena saya merasa saya anak bungsu, saya merasa egois dan harus mendapat bagian yang paling banyak dari saudara-saudara saya, ketika itu juga saya tendang gelas didepan saya dan depan ibu saya, sehingga airnya tumpah habis. Setelah kejadian itu saya sangat menyesal dan saya mohon ampunan kepada tuhan yang maha pengampun, agar dosa saya diampuni. Setelah melewati berbagai rintangan dan halangan, akhirnya saya bisa sampai diujung perjalanan dibangku sekolah dasar, saya akan menghadapi ujian akhir sekolah nasional atau EBTANAS pada waktu itu. Ada sekelumit cerita haru pada saat saya akan menghadapi ujian akhir, orang tua saya bingung karena ujian akhir sekolah nasional diwajibkan pakai sepatu bagi para peserta ujian. Apalagi sekolah saya sebagai sekolah penyelenggara ujian akhir yang  nantinya ada beberapa sekolah yang datang dan ikut ujian disekolah saya. Sedangkan saya tidak memiliki sepatu, mau beli orang tua saya tidak punya uang. Tapi Alhamdulilah akhirnya Allah memberi jalan, ada teman saya yang menyedekahkan sepatunya yang sudah tidak dipakai lagi, sepatunyapun masih bagus menurut perhitungan saya, tapi bagi dia sudah tidak layak pakai. Saya jadi ingat Allah itu selalu memberi jalan keluar bagi hamba-Nya yang lagi susah asalkan mau berusaha dan berdo’a.
Tiba saatnya pengumuman hasil ujian akhir sekolah, saya dan teman-teman semuanya dinyatakan lulus. Sujud syukur saya kumandangkan karena setelah melewati waktu yang panjang dan sedikit melelahkan walau ada keseruan bersama teman-teman semuanya akhirnya saya selesai dan bisa melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dari teman-teman satu kelas saya yang lulus melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya, saya, Aswandi, Ilham Saputra, Ardiyansyah, Elmiati, memilih melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah, sedangkan Evi, Wahyuningsih, Ardi Setiawan, Rajuandi, Juhardi, Aan Nirwahdah serta Sridayanti melanjutkan ke SMP. Apa boleh buat karena kita meiliki pilihan sendiri-sendiri, akhirnya kami menjalani aktivitas masing-masing. Saya, Aswandi, Ilham Saputra dan Ardiyansah masih berteman dengan akrabnya, pulang pergi sekolah selalu bareng dan tak terpisah seperti anak Geng. Sedangkan dengan teman yang melanjutkan ke SMP kami juga masih sering ketemu, karena sekolah yang kami  tuju satu arah namun SMP agak jauh dari Mts. Adapun jarak perjalanan dari rumah saya ke sekolah lumayan jauh, sekitar 4 km, saya dan ketiga teman saya selalu jalan kaki, maklum waktu itu dikampung yang namanya kendaraan bermotor masih sangat asing dan jarang sekali dijumpai, yang popular waktu itu adalah sepeda. Di MTs ini saya menemukan teman-teman baru, tapi saya tetap tidak melupakan teman SD saya, teman baru saya antara lain ada Susantono (Anon) seorang anak yang meiliki suara vocal yang khas dan sangat enak didengar suaranya dan sering mengikuti lomba baik syarhil Alqur’an, MTq, Nasyid. Rudi yang mengaku nama dirinya sebagai Enda Ungu  padahal bakat dia adalah melukis dan melawak dengan gaya rambut yang khas dan badan jungkring serta memiliki sifat yang tidak sabar alias cepat emosi, pernah suatu ketika ada teman main badminton kebetulan Si Rudi ini juga menyukai permainan ini, temannya ini tidak mau gantian, oleh Rudi Badnya diambil dipatahkan dan dilemparkan jauh-jauh tak jauh berbeda dengan nasib si bad, netnya juga ditarik secara paksa dan dibuang begitu saja oleh Rudi, saya waktu itu tak tau apakah Rudi sadar atau tidak melakukan hal itu namun cerita positifnya dia juga pernah bawa nama sekolah saya ke tingkat kabupaten dengan mendapat juara 3 lomba melukis. Udi Prayogo (Udeng) si gendut yang sangat iseng dengan teman-temannya juga meiliki suara yang indah dan merdu walau sedikit serak. Si Aswandi Taimimi mungin saya ceritakan sedikit lagi karena keadaan dia dan sekarang waktu SD sudah berubah menjadi anak yang tampan namun agak sedikit gugup alias pemalu. Ardiansyah juga sudah banyak yang berubah, anmun gaya rambutnya tetap anak Rock and Roll tak berubah namun sekarang ditambah dengan celana Jubrai ala Arafik si penyanyi dangdut maklu MTs pakai celana panjang. Ilham Saputra juga tak jauh berbeda dengan gaya rambut berdiri ditengah dan celana jubrai juga. Saya juga tak jauh berbeda dengan teman-teman diatas, namun saya memilih sekolah di MTs ini bukan hanya karena banyak ilmu agamanya namun juga karena alasan lainnya, alasan lainnya seperti saya bisa membantu orang tua saya dipagi hari karena MTs ini sekolah siang, pagi saya serta kakak saya Sukhairullida motong karet Getah. Diakhir perjalanan sekolah di MTs ini saya akan menghadapi ujian akhir sekolah atau UAN, namun karena adanya kebijakan dari pemerintah maka ujian sekolah didahulukan, disini hala yang taka akan pernah saya lupakan karena orang yang paling saya hormati, sayangi, serta yang enjadi panutan dan penyemangat dalam hidup saya di panggil oleh Allah swt. Sedikit cerita ketika saya akan menghadapi ujian sekolah ibu saya sempat membelikan saya celana sekolah karena celana saya sudah dianggap tak layak lagi untuk dipakai pada saat ujian, saya begitu senangnya, dan ketika saya menghadapi ujian ibu saya selalu merebus telur dan menyiapkan sarapan pagi sebagai pembuka sebelum saya pergi ujian. Saya begitu semangat menghadapi ujian ini karena selalu mendapat support dari ibunda tersayang. Namun semuanya berbalik arah, dunia ini rasanya sepi, kehidupan rasanya mati, ketika orang yang paling saya sayangi dan paling mengerti dengan saya dipanggil oleh Allah SWT, bertepatan dengan tanggal 04-mei-2007 jam 21:10, padahal beberapa hari kemudian saya akan menghadapi ujian akhir sekolah serta hari ulang tahun saya yang ke-15 tahun. Kita semua merasa berduka, terlebih kakak saya sukhairullida, dia menangis sampai meraung-raung dan sampai kesakitan sehingga menyebabkan dia masuk puskesmas, saya merasa kasian karena kakak saya juga dekat dengan ibu saya.
BERSAMBUNG........

UUD LINGKUNGAN HIDUP

Undang-undang perlindungan terhadap lingkungan hidup UU No. 5 tahun 1990 pasal 21 dan pasal 40 yaitu :
UU No. 5 tahun 1990 pasal 21
(1)          Setiap  orang dilarang untuk :
1.     Mengambil, menebang, mamiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut dan memerniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati.
2.    Mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi  atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ketempat lain di dalam atau diluar Indonesia.

(2)         Setiap orang dilarang untuk :
a.    Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut,  dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam kaedaan idup.
b.    Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.
c.    Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain didalam maupun diluar Indonesia.
d.    Memperniagakan, menyimpan, atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia ketempat lain di dalam atau di luar Indonesia.
e.    Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dilindungi.
UU No. 5 tahun 1990 pasal 40 ayat 2 :
“Baran siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagimana dimaksud dalam pasal Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100. 000. 000, 00 (seratus juta rupiah)”.

KATA MOTIVASI PARA AHLI


“Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan punya kesempatan untuk bersikap berani”. (Mario Teguh).

“Bersikap ramahlah, arena setiap orang yang and temui sedang menghadapi perjuangan yang berat”. (Plato).

“Apabila dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkahpun”. (Bung Karno).
 
“Apakah kelemahan kita : kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjilak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita asalnya adalah rakyat gotong royong”.
(Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno).
 
Janganlah melihat kemasa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang”. (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno).
Hukum itu seperti jaring laba-laba, apabila yang kecil masuk maka akan terperangkap. Tetapi apabila yang besar terperangkap maka akan merusak jaring laba-laba tersebut. (Ahli Yunani)